Langsung ke konten utama

Ketulusan Takdir

Bukan tentang seberapa bodohnya orang yang menyayangi seseorang dengan ketulusan dan memperjuangkan segalanya, tetapi tetap terhormat. Mereka yang tulus terkadang tidak pernah lelah untuk membahagiakan seseorang yang mereka sayangi walapun seseorang itu tidak pernah sekalipun membalas kebahagiaan yang ia dapatkan. Namun, mereka yang mempunyai kutulusan itu pun mempunyai kesabaran yang teramat besar.

Terkadang mereka dicaci dengan cacian kreatif para orang-orang yang menganggap mereka bodoh. Anehnya mereka hanya bisa tersenyum sambil mengelus dada dan berdoa agar orang-orang tidak merasakan hal yang sama.

Banyak dari mereka yang melakukan segala cara agar mereka tidak merasakan ketulusan cinta yang mereka simpan jauh di lubuk hati terdalam. Seribu satu cara bahkan bermilyar-milyar yang mereka lakukan semua itu hanya mengantar mereka kepada satu titik dimana seseorang yang mereka sayangi hidup dalam keabadian.

Hati... Cuma diri kitalah yang mengerti apa maunya, bagaimana ia bekerja, dan bahkan perasaan apapun yang ada. Banyak dari mereka yang tulus menyembunyikan rasa yang ada untuk menjaga hati yang lain agar tidak terluka, tetapi bagaimana dengan hati mereka? Bagaimana keadaannya? Kondisinya?

Mereka baik-baik saja, karena ketulusan adalah obat paling manjur di dunia. Mereka tidak pernah merasa lelah bahkan bosan. Mungkin tuhan memberi kekuatan lebih pada mereka yang ingin membahagiakan seseorang dengan tulus. (*psp)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Go Away!

Sore itu... Aku beranjak pergi meninggalkan rumahmu... Berharap esok kita kan bersama lagi seperti yang lalu... Berharap pertengkaran itu tak jadi panjang... Ternyata, pertengkaran itu semakin hari semakin bertambah... Ego keras kita berdua sangatlah kuat... Sama-sama tak mau kalah... Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan kini sudah satu tahun perpisahan itu berlalu... Masih ada yang berbekas dihati masing-masing... Mungkin bulan kemarin aku masih mengharapkanmu, masih ingin kamu kembali... Tapi, kali ini aku sangat ingin melupakan semua yang pernah kita jalani... Menghapusmu dalam setiap memori otakku... Aku sangat terluka, kenapa harus selalu aku yang kamu salahkan? Kenapa? Seharusnya kamu berfikir siapa yang seharusnya disalahkan... Aku pergi... Aku mohon, lepaskan semua ikatan apapun itu, aku ingin bahagia...  Tuhan sudah menakdirkan kita tak bersama... Jangan pernah kembali aku mohon...

Apa jadi orang baik itu salah?

Menurut saya sah-sah aja, kenapa? Karena apapun kebaikan yang saya lakukan membuat saya bahagia, membuat orang tersenyum lebar,hati saya merasa senang. Walaupun terkadang banyak okum yang memanfaatkan kebaikan saya.  ketika seseorang yang dengan sengajanya menyakiti saya padahal saya selalu baik dengannya, apa yang bias saya lakukan? Apa? Hanya diam dan mengelus dada saja. Mungkin saya bukan orang yang baik menurutnya. Anehnya , saat saya melakukan banyak kebaikan untuk mereka yang menurut saya mereka sangat membutuhkan bantuan saya, saya merasa kasihan kepada mereka   dan tiba-tiba saya melakukan kesalahan sedikit saja, mereka langsung mencaci maki saya seakan-akan saya orang yang tidak pernah menolong mereka.  Bukan, maksud saya bukan saya pamrih. Saya berpikir saja apa mereka tidak punya hati? Mereka tidak berfikir panjang? Yang ada dipikiran mereka tuh apa sebenarnya? Saya sangat heran dengan orang-orang yang seperti itu. Mungkin banyak saya-saya di luar...

In the moment

Hari itu aku melihatmu, dengan naluri sebagai wanita aku pasti langsung menyukaimu. Curi-curi pandang selalu aku lakukan untuk memperhatikanmu. Dalam diam aku berharap dekat dan mungkin saling sapa. Kini semua sudah terlewatkan, masa-masa dimana kamu dan aku saling mencari tahu informasi masing-masing dari kita. Aku pun heran dan masih tidak percaya, mengapa tuhan mempertemukan kita dan menyatukan kita dalam hubungan yang sulit ini. Aku paham dan sangat paham, kalau kita berbeda. Kamu yang selalu pasrah pada keadaan dan tidak pernah sekalipun berjuang. Oh aku lupa, kamu pernah berjuang tapi hanya beberapa waktu saja dan kembali terpuruk. Kamu pernah bilang, tidak pernah mempermasalahkan perbedaan kita. Tapi, kamu selalu saja mengeluh dan selalu menyuruhku pergi. Apakah pergi segampang itu buat kamu? Apa kehadiranku malah membuat beban untukmu? Sayang aja pun tidak cukup buat kamu, sampai kamu dengan gampangnya bilang "yang sayang sama gua mah banyak" aku bingung, sema...